PADANG, PUBLIKSULTRA.COM—Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Padang menuntut pasangan suami istri (pasutri) pemilik warung sate KMSB Padang, Bustami (56) dan Evita (47), dengan hukuman tiga tahun penjara. Salah satu pertimbangan jaksa dalam mengajukan tuntutan adalah sikap terdakwa yang enggan mengakui perbuatan.

baca juga : Tunjangan Direksi dan Dewan Pengawas BPJS Naik Jadi 2 Kali Gaji

Tuntutan itu disampaikan JPU Mulyana Safitri di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Padang, Senin (12/8). Jaksa menilai, terdakwa telah meresahkan masyarakat dengan aktivitas perdagangannya, sehingga layak didakwa melanggar Pasal 62 ayat (1) jo Pasal 8 ayat (1) huruf a dan d, Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen.

“Perbuatan para terdakwa telah meresahkan masyarakat. Terdakwa juga tidak mengakui perbuatannya. Selain itu kami menilai terdakwa telah melanggar Pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab UU Hukum Pidana (KUHP),” kata JPU Mulyana Safitri, saat membacakan amar tuntutannya.

Atas tuntutan tersebut, kedua terdakwa melalui Nurul Ilmi dkk selaku penasihat hukum (PH) menyatakan akan mengajukan nota pembelaan pada persidangan berikutnya. Rencana pembelaan tersebut akan diajukan dalam bentuk tertulis ke hadapan majelis hakim PN Padang yang memimpin jalannya persidangan.

“Atas tuntutan yang diajukan oleh jaksa penuntut, kami setelah berdiskusi dengan klien kami meminta waktu selama empat hari kepada majelis hakim untuk menyusun nota pembelaan atau pledoi secara tertulis,” ucap Nurul Ilmi.

Setelah menerima permintaan dari terdakwa, majelis hakim yang diketui oleh Agus Komarudin dengan anggota majelis Gutiarso dan Lifiana Tanjung mengabulkan permintaan penasihan hukum kedua terdakwa, serta memutuskan untuk melanjutkan persidangan pada Kamis 15 September 2019.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kedua tersangka yang merupakan pasangan suami istri (pasutri) berhasil diciduk oleh tim Buser Polresta Padang di Kabupaten Bekasi, usai menjadi buron sekitar satu bulan dalam status sebagai tahanan kota atas dugaan penjualan sate daging babi secara diam-diam.

Terungkapnya kasus sate daging babi itu sendiri berawal saat tim gabungan menggeledah gerobak dagang Sate KMSB di kawasan Tugu Api, Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, yang diduga menjual sate berbahan babi secara diam-diam. Penggeladahan berlangsung sekitar pukul 19.00 WIB pada Selasa 29 Januari 2019 oleh oleh petugas gabungan dari Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, Balai BPOM, dan Satpol PP Padang.

baca juga : Kivlan Zen Gugat Wiranto Soal Dana Pam Swakarsa Rp 8 Miliar

Informasi perdagangan sate daging babi di Sate KMSB Simpang Haru sendiri terendur dari laporan masyarakat yang kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas Perdagangan Kota Padang bersama tim gabungan, dengan mengecek kebenaran informasi tersebut. Setelah membeli sampel daging sate di Sate KMSB, tim melakukan pengecekan labfor di Balai BPOM Padang dan dilanjutkan dengan pengecekan ke Balai BPOM Aceh.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, terbukti bahwa daging sate KMSB positif mengandung daging babi yang memiliki hukum syariat haram di kalangan umat Islam, akan tetapi diperdagangkan secara diam-diam di Kota Padang yang notabene sebagian besar penduduknya adalah kaum muslim. (h/win)

Reporter : WINDA /  Editor : DNJ / Sumber: HarianHaluan

Load More Related Articles
Load More By publiksultra
Load More In Berita

Baca Juga

Saat Erick Thohir Dikira Sebagai Menteri Jokowi

Jakarta, Publiksultra.com – Usai keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Jo…