Jakarta, Publiksultra.com — India baru saja melaksanakan misi pendaratan Bulan Chandrayaan-2 pada 6 September lalu. Akan tetapi, keberhasilan misi ini dipertanyakan setelah adanya dugaan bahwa pendarat (lander) Vikram mengalami kecelakaan saat melakukan pendaratan di Bulan.

Sejak saat itu, Vikram tidak memberikan respon ke Organisasi Riset Antariksa India (ISRO). Dilansir dari Financial Express, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kemudian mengerahkan pengorbit Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) untuk mencari tahu keberadaan Vikram.

baca juga : IMIK Jakarta Ingatkan BPKP Sultra Tidak Main Mata Soal Audit Dana Desa Konawe

21 September dianggap sebagai tenggat waktu untuk mengembalikan kontak ke Vikram. Pasalnya kegelapan bulan akan dimulai di wilayah kutub selatan Bulan. Masa hidup lander Vikram dan robot penjelajah Pragyaan adalah ’14 -earth day ‘atau’ 1-lunar day ‘, yang akan berakhir pada 21 September.

Pendarat Vikram telah kehilangan kontak dengan stasiun Bumi selama proses pendaratan lunak ketika berjarak beberapa ratus meter di atas permukaan Bulan pada dini hari 7 September. Pengorbit Reconnaissance milik NASA diharapkan bisa mengungkap informasi baru setelah memindai wilayah pendaratan Vikram.

“Untuk mendukung analisis Organisasi Penelitian Antariksa India, NASA akan membagikan gambar sebelum dan sesudah flyover dari lokasi pendaratan Chandrayaan-2 Vikram,” kata ilmuwan proyek LRO, Noah Petro.

Wilayah kutub selatan Bulan adalah wilayah yang belum dipetakan. NASA sendiri sedang merencanakan misi berawak ke bagian Bulan tersebut.

Informasi yang dikumpulkan oleh pendarat Vikram dan robot penjelajah Pragyaan akan sangat krusial bagi NASA. Dilansir dari Space, jika Vikram tetap tidak ada kontak, maka insiden ini akan menjadi pendarat bulan kedua yang hilang tahun ini setelah misi Beresheet Israel.

ISRO mengatakan meskipun Vikram dan Pragyaan hilang, misi Chandrayaan-2 telah menyelesaikan 90 hingga 95 persen dari misi.

Misi tersebut kemungkinan akan menghasilkan banyak ilmu pengetahuan. Sebelumnya, misi Chandrayaan-1 berhasil membawa instrumen yang mengidentifikasi air es di bawah permukaan kutub selatan Bulan di dalam kawah gelap.

baca juga : Fuad Amin Diduga Meninggal Akibat Serangan Jantung

Pengorbit bulan NASA sendiri dapat memberikan informasi penting untuk upaya pendaratan bulan Amerika dan ISRO di masa depan. Lunar Reconnaissance Orbiter, yang telah mengitari bulan sejak 2009, dijadwalkan terbang di atas lokasi pendaratan yang ditargetkan Vikram pada 17 September.

Foto-foto pesawat ruang angkasa dapat membantu ISRO menganalisis status pendarat saat ini dan membantu upaya berkelanjutan lembaga untuk menjalin kontak dengannya. Setelah kecelakaan Beresheet pada bulan April, LRO juga memotret situs itu.

sumber : cnnindonesia

Load More Related Articles
Load More By farid fadly
Load More In Berita

Baca Juga

Anak Paddare’ Minta Restu ke Tokoh Nasional Muchlis Patahna

Hari ini, (27 September 2019), bertempat di salah satu gedung di Kuningan, Jakarta. Irwans…