“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan!”
-Widji thukul

Dalam rentetan pristiwa sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia sudah banyak memberikan sumbangsih yang sangat besar atas negeri ini, diantaranya telah mengantarkan negri ini keluar dari Otoliterarianisme ala rezim Orde Baru yang berkuasa lebih dari 30 tahun. perjuangan-perjuangan yang didasari atas tututan kepentingan rakyat, serta melawan kebijkan-kebijakan penguasa yang tidak pro terhadap rakyat maka alaram Demokrasi secara konsisten terus didengungkan oleh mahasiswa demi Indonesia yang lebih baik dan berkeadilan.

baca juga : Dua Mahasiswa Meninggal, LKBHMI Kendari Kecam Kepolisian

Setelah mengalami mati suri yang begitu lama, Hadirnya gerakan Mahasiswa hari ini di picu atas tuntutan pencabutan Revisi UU KPK dan RUU-KUHPidana yang dianggap melemahkan dari pada fungsi KPK sebagai lembaga independen untuk memberantas tuntas korupsi, serta RUU-KUHPidana yang dinilai memuat banyak pasal karet sehingga di khwatirkan akan menjadi alat negara untuk membugkam. Sampai hari ini dukungan moral maupun moril terhadap gerakan mahasiswa masi terus mengalir dan tetap konsisten berada digaris perjuangan, teriakan-terikan perlawanan (PANJANG UMUR PERJUANGAN) dari lautan masa aksi menjadi penyemangat terbesar, walau ditengah penyampaian aspirasi di warnai dengan tindakan-tidakan represif oleh pihak aparatur negara (Kepolisian).

Tindakan represif oleh kepolisian ini di tandai dengan pristiwa September Berdarah, dimana banyak mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia menjadi korban penangkapan, pemukulan, dan penembakan hingga berujung pada kematian. Kususnya masa aksi mahasiswa Kendari, ada dua mahasiswa menjadi korban pada saat melakukan aksi demonstrasi di depan kantor DPRD Provinsi Sulawesi tenggara diantaranya  atas nama La Randi (21), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Muhammad Yusuf Kardawi (19), Fakultas Teknik Meraka menjadi korban penembakan senjata api dan gas air mata hingga meninggal dunia, namun semangat mereka masi tetap hidup dan terparti dihati, perjuangan dan pengorbanan mereka tidak akan menjadi sia-sia melainkan akan terus menjadi penyemangat untuk menghancurkan kezoliman penguasa terhadap rakyat dengan segala bentuk kebijakan-kebijakan yang dibuat hari ini dalam kemasaam rankaian peraturan perundang-undangan.

Tindakan-tindakan represif ini tak ubahnya mengingaktkan kita terhadap Otoliterarianisme ala Orde baru penculikan, pemukulan dan bahkan pembunuhan merupakan konsekuensi. adalah kondisi dimana pada saat itu mulut yang seharusnya kritis dibungkam untuk mengawetkan kekuasaan, bila menentang atau mengkritisi pemerintah akan mendapatkan ganjaran yang tidak manusiawi. mata sejarah telah merekam begitu sadisnya rentetan pristiwa-pristiwa sejarah, salah satunya adalah Gerakan Reformasi 1998 yang di motori oleh mahasiswa yang jengah atas ketertundukan dan mendambakan tatanan berprinsip demokrasi.

baca juga : Kutuk Penembakan Massa Aksi, HMI Minta Polda Sultra Bertanggung Jawab

Kematian dua demonstran mahasiswa kendari oleh kebiadaban oknum kepolisian adalah luka mendalam sekaligus pil pahit yang harus ditelan mentah-mentah oleh keluarga almarhum, kerabat, serta masa aksi mahasiswa. Pembakaran lilin dengan nyayian lagu Gugur bunga, mengiringi kepergian sekaligus mengenang tindakan heroik almarhum. Bukan berarti dengan kejadian tragis ini membuat dada bergetar takut maupun mematahkan semangat dari kawan-kawan mahasiswa untuk konsisten terhadap perjuangan, pesan Ankara telah di komandkan kawan api sudah berkobar dan pantang untuk dipadamkan. Tidak ada yang menginginkan kejadian naas ini terjadi, kejadian yang begitu memilukan dan menguras air mata di tengah-tengah semangat yang begitu menggelora atas serankaian tuntutan. Kecaman demi kecaman yang dilayangkan seamtero Negri, marah yang begitu membara mengutuk tindakan oknum kepolisian, menuntut agar pelaku pembunuhan segera ditangkap dan diadili sesuai peraturan yang berlaku diNegeri ini. Sebagai penulis saya turut berduka cita, serta berduka atas cita-cita bangsa ini terhadap Reformasi yang katanya untuk dan pro demokrasi, namun sangat disayangkan Lagi-lagi ketika Mahasiswa melakukan aksi demonstrasi melupakan aspirasi, maka kriminalisasi dan tindakan represif adalah hadiah yang harus diterima, Keberigasan penguasa melalui aparat terhadap rakyatnya adalah kemunduran peradaban yang berwatak kolot dan BAR-BAR, Saat ini cuman ada satu kata; LAWAN!.

HIDUP MAHASISWA YANG MELAWAN!!!
HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!
PANJANG UMUR PERJUANGAN!!!

Load More Related Articles
Load More By publiksultra
Load More In Berita

Baca Juga

PSHI desak KPK Buktikan Keterlibatan Mekeng Dalam Kasus PLTU Riau

PUBLIKSULTRA.COM – JAKARTA. Perkumpulan Sarjana Hukum Independen (PSHI) mendesak KPK…